Siswa di Korea Selatan banyak mengikuti lembaga bimbingan belajar tambahan setelah sekolah formal. Kegiatan ini dikenal dengan istilah hagwon dan berlangsung hingga malam hari. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman materi dan meningkatkan nilai ujian. Fenomena ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup pelajar Korea.
Sistem pendidikan Korea sangat berfokus pada hasil ujian sebagai tolok ukur keberhasilan akademik. Ujian nasional seperti CSAT menjadi penentu utama masuk universitas. Karena itu, siswa mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk menghadapi satu hari ujian penting. Kondisi ini menciptakan budaya belajar yang sangat terstruktur dan terencana.
Pelajar Korea memiliki durasi belajar yang lebih panjang dibanding banyak negara lain. Setelah sekolah selesai, mereka melanjutkan belajar di hagwon atau perpustakaan. Waktu istirahat sering kali terbatas demi mengejar prestasi. Hal ini membentuk etos kerja keras sejak usia dini.
Keberhasilan akademik dianggap sebagai kunci masa depan yang sukses. Orang tua dan lingkungan memberi ekspektasi tinggi terhadap prestasi anak. Tekanan ini mendorong siswa untuk terus bersaing dan berusaha lebih keras. Namun, kondisi tersebut juga sering menimbulkan stres di kalangan pelajar.
Guru di Korea Selatan memiliki kedudukan yang sangat dihormati dalam masyarakat. Siswa diajarkan etika sopan santun dan kepatuhan kepada guru sejak kecil. Hubungan guru dan murid bersifat formal namun penuh respek. Hal ini mendukung terciptanya lingkungan belajar yang tertib.
Disiplin menjadi nilai utama dalam sistem pendidikan Korea. Siswa terbiasa mengikuti aturan ketat di sekolah maupun lembaga tambahan. Selain itu, persaingan antar siswa untuk meraih peringkat tinggi sangat intens. Budaya ini membentuk karakter pekerja keras dan pantang menyerah.
Keluarga memiliki keterlibatan tinggi dalam pendidikan anak. Orang tua aktif memantau nilai, jadwal belajar, hingga memilih lembaga tambahan terbaik. Mereka juga rela menginvestasikan biaya besar demi pendidikan anak. Dukungan ini menjadi faktor penting keberhasilan akademik.
Masuk universitas ternama seperti SKY dianggap sebagai puncak prestasi akademik. Lulusan universitas tersebut memiliki peluang karier lebih luas. Karena itu, siswa berjuang keras untuk lolos seleksi masuknya. Pandangan ini membuat pendidikan tinggi sangat kompetitif.
